SONGFABLE · 1979

Escape (The Pina Colada Song)

RUPERT HOLMES · 1979

TL;DR: Di balik melodinya yang ceria dan aroma koktail tropis, lagu ini sebenarnya bercerita tentang dua pasangan yang sama-sama berniat selingkuh lewat iklan jodoh di koran — lalu tanpa sengaja "tertangkap basah" saling menemukan satu sama lain, dan justru jatuh cinta lagi.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Lagu Paling Ceria tentang Niat Selingkuh yang Pernah Ada

Coba dengarkan lagu ini sekali lagi, tapi kali ini benar-benar perhatikan ceritanya. Kebanyakan orang mengenal "Escape (The Pina Colada Song)" sebagai lagu pantai yang riang — soundtrack liburan, lagu yang diputar di resort Bali atau kafe tepi pantai di Lombok, lagu yang membuat kita membayangkan segelas piña colada dingin di tangan. Tapi inilah kejutannya: ini sama sekali bukan lagu tentang minuman. Ini adalah cerita pendek tentang seorang suami yang bosan dengan istrinya, diam-diam membaca rubrik iklan jodoh di koran, dan memutuskan untuk membalas iklan dari seorang wanita misterius yang mencari pasangan baru.

Twist-nya? Ketika sang pria datang ke bar untuk bertemu wanita misterius itu, yang muncul justru... istrinya sendiri. Ternyata sang istri juga sama bosannya, dan dialah yang memasang iklan itu. Alih-alih bertengkar, keduanya tertawa — dan menyadari bahwa orang yang mereka cari-cari di luar sana ternyata sudah tidur di sebelah mereka selama bertahun-tahun. Mereka hanya tidak pernah benar-benar saling mengenal.

Jadi ya, lagu nomor satu terakhir dekade 1970-an di Amerika adalah lagu tentang dua orang yang gagal selingkuh karena tidak sengaja selingkuh dengan pasangan sendiri. Hanya Rupert Holmes yang bisa membuat premis sekonyol itu terdengar begitu manis.

Rupert Holmes: Penulis Cerita yang Kebetulan Jadi Penyanyi

Untuk memahami lagu ini, kita perlu memahami siapa Rupert Holmes. Ia lahir di Inggris pada 1947 dari ayah Amerika dan ibu Inggris, lalu besar di New York. Holmes bukan tipe rock star. Ia adalah seorang craftsman — pengrajin cerita. Sebelum terkenal sebagai penyanyi, ia sudah malang melintang sebagai penulis lagu dan arranger untuk musisi lain, termasuk dikabarkan pernah bekerja untuk Barbra Streisand. Dan setelah era pop-nya berlalu, ia membuktikan bakat berceritanya dengan memenangkan beberapa Tony Award untuk musikal Broadway The Mystery of Edwin Drood, lalu menjadi novelis dan penulis naskah televisi.

Dengan latar belakang seperti itu, masuk akal kalau lagu-lagu Holmes terasa seperti cerpen tiga babak yang dipadatkan ke dalam empat menit. "Escape" punya tokoh, konflik, klimaks, dan resolusi — struktur naratif yang lengkap, sesuatu yang jarang ada di lagu pop.

Proses kelahirannya pun penuh kebetulan yang lucu. Holmes dikabarkan menulis lagu ini dengan terburu-buru untuk album Partners in Crime (1979). Inspirasinya konon datang dari iklan jodoh sungguhan yang ia baca di koran The Village Voice di New York — ia membayangkan: bagaimana kalau seseorang membalas iklan jodoh, dan yang datang ternyata pasangannya sendiri? Dan inilah detail paling terkenal: di draf awal, baris pembuka lagu itu konon bukan tentang piña colada, melainkan tentang musik Humphrey Bogart. Holmes merasa itu kurang pas, lalu di detik-detik terakhir sebelum rekaman vokal, ia mencari kata yang terdengar seperti "pelarian liburan". Piña colada terpilih nyaris secara acak — dan yang lebih lucu lagi, Holmes mengaku saat itu ia bahkan tidak yakin pernah benar-benar mencicipi minuman tersebut. Satu keputusan impulsif itu mengubah nasib lagu ini, nasib kariernya, dan mungkin nasib industri piña colada dunia.

Lagu ini dirilis dengan judul "Escape" saja. Tapi pendengar radio terus menerus meneleponnya sebagai "lagu piña colada itu", sampai label akhirnya menyerah dan menambahkan "(The Pina Colada Song)" ke judulnya. Penjualannya langsung melesat. Pada akhir Desember 1979, lagu ini menjadi single nomor satu di tangga lagu Billboard Hot 100 — lagu nomor satu terakhir dekade 1970-an. Lalu, setelah sempat turun, ia naik lagi ke posisi puncak pada awal Januari 1980, menjadikannya salah satu dari sedikit lagu yang berstatus nomor satu di dua dekade berbeda.

Bagi pendengar Indonesia, ada satu benang merah yang menarik: era ini adalah era yang sama ketika pop "berkisah" juga mendominasi radio Indonesia. Akhir 1970-an adalah masa keemasan lagu-lagu naratif — di Amerika ada Rupert Holmes dan Jim Croce, di Indonesia ada tradisi lagu bercerita yang nantinya disempurnakan oleh Ebiet G. Ade dan balada-balada Iwan Fals. Selera global saat itu memang sedang condong ke lagu yang bisa "ditonton" seperti film pendek. "Escape" adalah versi Hollywood-komedi-romantisnya.

Membongkar Cerita: Bosan, Bukan Benci

Mari kita bedah ceritanya babak per babak — tanpa mengutip liriknya, karena cerita ini memang lebih nikmat diceritakan ulang seperti dongeng.

Babak satu. Seorang pria berbaring di samping istrinya yang tertidur. Ia tidak membencinya — ini detail penting — ia hanya bosan. Hubungan mereka digambarkan seperti lagu favorit yang terlalu sering diputar sampai kehilangan rasa. Sambil iseng membaca koran di tempat tidur, matanya tersangkut di rubrik iklan jodoh. Ada satu iklan dari seorang wanita yang mendeskripsikan dirinya lewat daftar kesukaan: ia menyukai koktail tropis tertentu, menyukai berjalan-jalan saat hujan turun, tidak tertarik pada gaya hidup sehat yang kaku, dan menginginkan pasangan yang punya selera petualangan — termasuk petualangan romantis yang spontan di tempat-tempat tak terduga.

Babak dua. Sang pria, meski merasa sedikit bersalah pada istrinya, membalas iklan itu lewat koran juga. Ia menulis bahwa ia adalah pria yang dicari: ia pun menyukai semua hal itu, dan mengajak si wanita misterius bertemu di sebuah bar bernama O'Malley's untuk merencanakan "pelarian" mereka bersama. Di sinilah judul lagu mendapat maknanya: escape — kabur dari rutinitas, dari kebosanan, dari hidup yang terasa seperti fotokopi hari kemarin.

Babak tiga, sang klimaks. Di bar itu, sang pria menunggu. Lalu seorang wanita masuk — dan ia mengenali lekuk senyum itu seketika. Itu istrinya sendiri. Hening sejenak. Lalu sang istri tertawa dan berkata sesuatu yang intinya: ia tidak pernah tahu suaminya menyukai semua hal itu — koktail tropis, hujan, spontanitas. Tidak ada adegan piring melayang. Tidak ada drama perceraian. Yang ada justru dua orang yang menyadari, dengan cara paling memalukan sekaligus paling manis, bahwa mereka berdua menginginkan hal yang sama: bukan orang baru, melainkan rasa baru.

Pesan intinya sederhana tapi dalam: seringkali yang membunuh hubungan bukan hilangnya cinta, melainkan hilangnya rasa ingin tahu. Pasangan dalam lagu ini berhenti bertanya, berhenti mengeksplorasi, dan menganggap sudah tahu segalanya tentang satu sama lain — padahal tidak. Mereka berdua menyimpan sisi diri yang tidak pernah ditunjukkan di rumah. Ironisnya, butuh percobaan perselingkuhan untuk membuat mereka akhirnya "berkenalan" lagi.

Tentu, kalau dipikir secara serius, moralnya agak bermasalah — keduanya kan sama-sama berniat mengkhianati pasangan, dan lagu ini menutupnya dengan tawa, bukan dengan percakapan jujur tentang kenapa mereka sampai di titik itu. Holmes sendiri dikabarkan pernah berkelakar bahwa ia tahu betul kedua tokohnya bukan orang baik-baik — tapi justru itu yang membuat ceritanya manusiawi. Ini bukan lagu tentang pasangan ideal; ini lagu tentang pasangan yang nyata, yang bosan, yang nyaris tergelincir, dan yang beruntung mendapat kesempatan kedua dengan cara paling absurd.

Dari Tangga Lagu ke Galaksi: Warisan yang Tak Terduga

"Escape" punya kehidupan kedua yang luar biasa. Setelah puncaknya di 1979-1980, lagu ini sempat dianggap sekadar nostalgia era soft rock — kategori yang oleh kritikus Amerika kadang dijuluki "yacht rock", musik halus untuk pesta di atas kapal pesiar. Tapi budaya pop punya cara aneh untuk mendaur ulang.

Titik balik terbesarnya datang pada 2014, ketika film Guardians of the Galaxy memasukkan lagu ini ke dalam mixtape "Awesome Mix Vol. 1" milik Star-Lord. Adegan di mana lagu ini diputar diserap oleh generasi yang bahkan belum lahir saat lagu ini dirilis. Streaming-nya melonjak, dan tiba-tiba anak-anak muda di seluruh dunia — termasuk di Indonesia — ikut bersenandung tentang koktail tropis dan hujan. Sebelumnya, lagu ini juga muncul di film Shrek dan berbagai film serta serial lain, hampir selalu sebagai penanda suasana santai-jenaka.

Lagu ini juga punya efek nyata di dunia minuman: piña colada — campuran rum, krim kelapa, dan nanas yang konon lahir di Puerto Rico — mendapat duta besar global gratis selamanya. Sampai hari ini, hampir setiap menu koktail di resort tropis mana pun, dari Karibia sampai Seminyak, memajang minuman itu dengan percaya diri, dan sebagian jasanya layak diberikan kepada Rupert Holmes. Ada ironi yang gurih di sini: bahan-bahan piña colada — kelapa dan nanas — adalah hasil bumi yang sangat akrab bagi orang Indonesia. Bisa dibilang, "rasa tropis" yang dirindukan tokoh-tokoh dalam lagu ini sebagai fantasi pelarian adalah kenyataan sehari-hari di kepulauan kita. Apa yang bagi orang New York adalah mimpi eskapis, bagi orang Manado atau Bali hanyalah es kelapa muda di warung sebelah.

Sementara itu, Holmes sendiri dikabarkan punya hubungan benci-tapi-sayang dengan lagu ini. Ia seorang penulis serius — novelis, dramawan pemenang penghargaan — tapi di mata dunia, ia selamanya adalah "si penyanyi lagu piña colada". Ia pernah bercanda bahwa apa pun pencapaiannya, batu nisannya kelak pasti akan menyebut lagu ini. Sebuah nasib yang anehnya mirip dengan tokoh-tokoh dalam lagunya: terjebak dalam satu identitas, padahal punya banyak sisi lain yang tak terlihat.

Mengapa Lagu Ini Masih Relevan di Era Aplikasi Kencan

Inilah bagian yang paling menarik: "Escape" mungkin lebih relevan hari ini daripada di tahun 1979. Ganti "iklan jodoh di koran" dengan "aplikasi kencan", dan ceritanya langsung terasa seperti skenario zaman sekarang. Bayangkan: seorang suami diam-diam membuat profil anonim di aplikasi, melakukan swipe, mendapat match dengan seseorang yang seleranya sangat cocok — lalu saat bertemu, ternyata itu istrinya sendiri yang juga sedang diam-diam mencari "pelarian". Cerita semacam ini sesekali benar-benar muncul sebagai berita viral di media sosial, termasuk di Indonesia, dan setiap kali muncul, orang-orang berkomentar: "Kok kayak lagu piña colada itu, ya?"

Lagu ini bertahan karena pertanyaannya abadi: apakah rumput tetangga benar-benar lebih hijau, atau kita hanya berhenti menyiram rumput sendiri? Di era ketika opsi terasa tak terbatas — pasangan baru hanya berjarak satu swipe, kehidupan orang lain selalu tampak lebih seru di Instagram — godaan untuk "kabur" lebih besar dari sebelumnya. Holmes, dengan caranya yang jenaka, mengingatkan bahwa kebaruan yang kita cari di luar sana mungkin sedang menunggu di rumah, hanya saja tertutup debu rutinitas.

Ada juga alasan musikal yang lebih sederhana: lagu ini enak. Groove soft rock-nya yang santai, melodi chorus yang langsung menempel di kepala sejak dengaran pertama, dan vokal Holmes yang terdengar seperti teman yang sedang curhat sambil tersenyum — semuanya membuat lagu ini berfungsi di dua tingkat. Anda bisa menikmatinya tanpa berpikir, sebagai lagu pantai belaka. Atau Anda bisa mendengarkan ceritanya dan tersenyum getir karena mengenali sedikit diri sendiri di dalamnya. Lagu pop terbaik sering bekerja persis seperti itu: permen di luar, cermin di dalam.

Dan mungkin itu pelajaran terakhirnya, yang relevan untuk pasangan mana pun, di Jakarta maupun di New York: sebelum mencari pelarian, coba dulu ajak pasangan Anda melakukan hal yang belum pernah kalian lakukan bersama. Pesan piña colada — atau es kelapa muda — berdua. Jalan-jalan saat gerimis. Siapa tahu orang yang Anda cari memang sudah ada di sebelah Anda selama ini.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

📚 Ikuti kisahnya

🌍 Kunjungi tempat-tempatnya

🎸 Alami sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut:

Tags
70s