SONGFABLE · 1977

Dreams

FLEETWOOD MAC · 1977 · SAUSALITO, CALIFORNIA, USA

TL;DR: "Dreams" bukan sekadar lagu patah hati yang lembut — ini adalah surat perpisahan Stevie Nicks untuk Lindsey Buckingham, ditulis dalam sepuluh menit di studio milik Sly Stone, lalu dinyanyikan di depan mantan kekasihnya sendiri yang harus ikut memainkan gitarnya. Kelembutannya menyembunyikan salah satu "balas dendam" paling anggun dalam sejarah musik pop.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Lagu Putus Cinta yang Dinyanyikan di Depan Mantannya Sendiri

Bayangkan situasi ini: kamu baru saja putus dari pasangan yang sudah bertahun-tahun bersamamu. Lukanya masih basah. Lalu kamu menulis sebuah lagu tentang dia — tentang kebebasannya yang katanya ia inginkan, tentang kesepian yang akan menghantuinya. Dan kemudian, kamu harus menyanyikan lagu itu di studio rekaman... sementara mantanmu duduk beberapa meter darimu, memainkan gitar untuk lagu tersebut, karena kalian berdua masih satu band.

Itulah yang terjadi pada Stevie Nicks dan Lindsey Buckingham pada tahun 1976. Dan dari situasi yang nyaris mustahil itu, lahirlah "Dreams" — satu-satunya lagu Fleetwood Mac yang pernah mencapai posisi nomor satu di tangga lagu Billboard Hot 100 Amerika Serikat.

Yang paling mengejutkan? Lagu sebesar ini, lagu yang hampir lima dekade kemudian masih diputar miliaran kali di platform streaming, konon ditulis hanya dalam waktu sekitar sepuluh menit. Stevie Nicks sendiri menceritakan bahwa ia menulisnya di sebuah ruangan studio yang aneh — ruangan hitam-merah dengan tempat tidur besar berbentuk cekungan, milik legenda funk Sly Stone, di kompleks studio Record Plant, Sausalito, California. Ia duduk di tempat tidur itu dengan keyboard kecil, dan kata-katanya mengalir begitu saja.

Rumours: Album yang Lahir dari Kehancuran Lima Orang

Untuk memahami "Dreams", kita harus memahami kekacauan luar biasa di balik album Rumours. Pada pertengahan 1970-an, Fleetwood Mac adalah band dengan formasi yang baru menemukan keajaibannya: Mick Fleetwood di drum, John McVie di bass, Christine McVie di keyboard dan vokal, lalu dua orang Amerika yang baru bergabung — pasangan kekasih Lindsey Buckingham dan Stevie Nicks.

Tapi ketika mereka masuk studio untuk merekam Rumours, semuanya runtuh secara bersamaan. John dan Christine McVie sedang bercerai setelah delapan tahun menikah — sampai-sampai mereka hampir tidak bicara satu sama lain kecuali soal musik. Mick Fleetwood baru mengetahui istrinya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Dan Stevie Nicks serta Lindsey Buckingham, pasangan yang sudah bersama sejak masa sekolah di California, akhirnya berpisah setelah hubungan yang penuh gejolak.

Lima orang dengan hati hancur, terkunci di studio yang sama, dengan tumpukan tekanan dari label rekaman, dan — ini bagian yang sering diceritakan dalam berbagai memoar — konsumsi kokain yang konon luar biasa banyaknya. Hasilnya seharusnya bencana. Tapi yang terjadi justru sebaliknya: Rumours menjadi salah satu album terlaris sepanjang masa, terjual lebih dari 40 juta kopi di seluruh dunia.

Bagi pendengar di Indonesia, ada satu hal yang menarik: era keemasan Rumours pada 1977 bertepatan dengan masa keemasan musik pop balada di Indonesia sendiri — era ketika Koes Plus masih berjaya dan generasi penulis lagu seperti Eros Djarot mulai melahirkan karya-karya seperti album Badai Pasti Berlalu, yang dirilis pada tahun yang sama. Ada kesejajaran yang indah di sana: 1977 adalah tahun ketika patah hati, baik di California maupun di Jakarta, diubah menjadi musik yang abadi. Dan bagi generasi musisi pop Indonesia tahun 1980-an hingga kini — dari era Chrisye sampai band-band indie seperti Stars and Rabbit atau warna folk-pop ala Danilla — DNA harmoni lembut dan atmosfer melankolis ala Fleetwood Mac terasa seperti bahasa yang familiar.

Membaca Pesan Tersembunyi di Balik Kelembutannya

Di permukaan, "Dreams" terdengar seperti lagu yang damai. Groove drum Mick Fleetwood yang hipnotis dan nyaris tidak berubah dari awal sampai akhir, bass John McVie yang hangat, suara Stevie Nicks yang serak dan menenangkan. Tapi dengarkan baik-baik apa yang sebenarnya ia katakan, dan kamu akan menemukan sesuatu yang jauh lebih tajam.

Inti liriknya adalah sebuah pernyataan dari perempuan yang ditinggalkan — atau lebih tepatnya, yang dilepaskan. Nicks pada dasarnya berkata kepada Buckingham: silakan, ambil kebebasanmu. Pergilah. Tapi ingat — kebebasan itu ada harganya, dan harganya adalah kesepian. Ia melukiskan gambaran tentang apa yang akan didengar sang mantan dalam keheningan malam: detak jantungnya sendiri yang menggema di kesunyian, dan bayangan tentang apa yang telah hilang dari hidupnya.

Lalu ada metafora cuaca yang menjadi jantung lagu ini. Nicks menggunakan citra hujan dan badai sebagai simbol pembersihan — gagasan bahwa guntur hanya datang bersama hujan, bahwa rasa sakit dan pemurnian selalu datang berpasangan. Hujan akan membasuhmu, katanya, dan setelah itu kamu akan tahu apa yang sebenarnya kamu miliki dan apa yang telah kamu sia-siakan. Bagi telinga orang Indonesia yang akrab dengan musim hujan dan filosofi "badai pasti berlalu", metafora ini terasa sangat dekat: hujan bukan hanya kesedihan, melainkan juga penyucian.

Yang membuat "Dreams" begitu istimewa adalah nadanya. Ini bukan lagu kemarahan. Tidak ada teriakan, tidak ada tuduhan kasar. Nicks memilih posisi yang jauh lebih kuat: ketenangan seseorang yang sudah berdamai, yang melepaskan dengan kepala tegak, sambil menyisipkan ramalan yang menusuk — bahwa sang mantan kelak akan menyesal. Ia juga menyelipkan pembelaan diri yang halus: para perempuan seperti dirinya, katanya, datang dan pergi seperti penyihir dengan visi-visinya, dan kamu bebas memutuskan mau mengejar mimpi yang mana. Tapi mimpi punya cara untuk menghantui pemiliknya.

Dan inilah twist paling dramatis dari seluruh cerita: Lindsey Buckingham, sang subjek lagu, justru orang yang membuat lagu ini bersinar. Versi demo awal "Dreams" konon sangat sederhana — hanya beberapa akor yang berulang. Buckingham-lah yang menyusun aransemennya, melapisi gitar-gitar yang berkilauan, dan membentuk dinamika lagu sehingga pengulangan akor yang minim itu terasa seperti perjalanan emosional. Ia menyempurnakan lagu yang ditulis tentang kegagalannya sendiri sebagai kekasih. Sulit menemukan ironi yang lebih puitis dari itu.

Menariknya, di album yang sama Buckingham juga menulis "jawaban"-nya sendiri: lagu "Go Your Own Way", yang versi ceritanya jauh lebih pahit dan menyalahkan. Rumours pada dasarnya adalah percakapan putus cinta dua arah yang direkam untuk didengar seluruh dunia — dan dunia tidak pernah bosan menguping.

Dari Tahun 1977 ke Era TikTok: Keabadian yang Tak Terduga

"Dreams" dirilis sebagai singel pada awal 1977 dan mencapai puncak Billboard Hot 100 pada Juni tahun itu. Album Rumours sendiri bertengger di posisi pertama tangga album Amerika selama 31 minggu dan memenangkan Grammy untuk Album of the Year. Lagu ini menjadi standar emas untuk genre yang kemudian disebut soft rock atau yacht rock — musik California yang halus, penuh harmoni, dan terdengar mahal.

Tapi cerita "Dreams" tidak berhenti di tahun 1970-an. Lagu ini punya kebiasaan aneh: ia terus bangkit kembali. Pada 2018, lagu ini sempat viral berkat sebuah meme di Twitter. Lalu datanglah momen yang nyaris tidak masuk akal: pada September 2020, seorang pria bernama Nathan Apodaca — dikenal sebagai 420doggface208 — merekam dirinya meluncur di jalan raya Idaho dengan skateboard, menenggak jus cranberry langsung dari botolnya, sambil lip-sync "Dreams". Video TikTok berdurasi 25 detik itu meledak ke seluruh dunia, termasuk sangat ramai di Indonesia.

Hasilnya menakjubkan: 43 tahun setelah dirilis, "Dreams" kembali masuk tangga lagu Billboard dan memecahkan rekor streaming. Mick Fleetwood, yang saat itu berusia 73 tahun, membuat akun TikTok hanya untuk membalas video itu dengan rekonstruksi dirinya sendiri — bermain skateboard sambil minum jus cranberry. Stevie Nicks pun ikut membalas dengan videonya sendiri. Sebuah lagu tentang perpisahan tahun 1976 tiba-tiba menjadi simbol kegembiraan santai bagi Generasi Z di tengah pandemi. Tidak ada penulis skenario yang berani menulis plot seperti itu.

Di Indonesia sendiri, momen TikTok itu memperkenalkan Fleetwood Mac kepada generasi pendengar baru yang mungkin hanya mengenal nama band ini dari koleksi kaset atau piringan hitam orang tua mereka. Toko-toko vinyl di Jakarta dan Bandung melaporkan Rumours sebagai salah satu album klasik Barat yang paling dicari — sejajar dengan Abbey Road dan The Dark Side of the Moon — di tengah kebangkitan budaya vinyl anak muda Indonesia beberapa tahun terakhir.

Mengapa Lagu Ini Tetap Terasa Hidup

Ada banyak lagu patah hati yang hebat. Tapi mengapa justru "Dreams" yang bertahan melewati lima dekade, beberapa generasi, dan bahkan algoritma TikTok?

Pertama, karena kejujurannya yang berlapis. "Dreams" tidak menyederhanakan patah hati menjadi sedih atau marah. Ia menampung semuanya sekaligus: kepasrahan, harga diri, kerinduan, dan sedikit — hanya sedikit — keinginan agar mantanmu menyesal. Siapa pun yang pernah putus cinta tahu bahwa campuran perasaan itulah yang sebenarnya terjadi. Nicks tidak berpura-pura lebih kuat dari kenyataannya, tapi juga tidak membiarkan dirinya hancur. Posisi emosional itu terasa modern bahkan menurut standar hari ini.

Kedua, karena musiknya bekerja seperti meditasi. Hampir seluruh lagu dibangun di atas dua akor yang berayun bolak-balik, seperti napas yang masuk dan keluar. Tidak ada klimaks yang dipaksakan. Groove-nya stabil seperti detak jantung. Itulah mengapa lagu ini bisa menjadi soundtrack untuk apa saja — patah hati, perjalanan sore, atau meluncur di jalan raya dengan sebotol jus cranberry. Ia tidak memaksakan emosi tertentu; ia membuka ruang.

Ketiga, karena kisah di baliknya adalah pelajaran tentang profesionalisme dan seni. Lima orang yang saling menyakiti memilih untuk tetap berada di ruangan yang sama dan menyelesaikan pekerjaan mereka — dan justru rasa sakit itulah yang membuat karyanya jujur. Bagi siapa pun yang pernah harus bekerja sama dengan orang yang menyakitinya, atau tetap profesional di tengah kehidupan pribadi yang berantakan, Rumours adalah bukti bahwa hal itu mungkin. Bahkan, kadang hasilnya luar biasa.

Dan terakhir, ada pesan universal di metafora hujannya: badai memang menyakitkan, tapi badai juga yang membersihkan. Di negeri yang mengenal musim hujan dengan sangat intim seperti Indonesia, gagasan itu tidak perlu diterjemahkan. Kita sudah memahaminya di tulang kita.

Hampir lima puluh tahun setelah Stevie Nicks duduk di tempat tidur aneh milik Sly Stone dan menulis lagu ini dalam sepuluh menit, "Dreams" tetap melakukan hal yang sama kepada setiap pendengar baru: ia berbisik bahwa kamu boleh melepaskan, bahwa hujan akan membasuhmu, dan bahwa di ujung kehilangan selalu ada kejernihan. Tidak banyak lagu yang bisa menjanjikan itu — apalagi menepatinya selama setengah abad.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

📚 Ikuti kisahnya

🌍 Kunjungi tempat-tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 [Tanya lebih lanjut]:

Tags
70s