SONGFABLE · 1995

Common People

PULP · 1995

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Common People - Pulp (1995)

TL;DR: Lagu ini bukan tentang cinta, melainkan tentang seorang perempuan kaya yang ingin "main-main jadi orang miskin" demi sensasi, dan kemarahan tajam si penyanyi yang tahu persis bahwa kemiskinan bukanlah kostum yang bisa dilepas kapan saja.

Sebuah anthem yang lahir dari kemarahan, bukan dari romansa

Bayangkan kamu sedang di kelas seni rupa di sebuah kampus di London, lalu seorang perempuan dari kalangan atas menghampirimu dan berkata bahwa ia ingin tinggal seperti "orang biasa", ingin melakukan apa yang dilakukan orang kebanyakan. Pada permukaannya kedengaran polos, bahkan mungkin manis. Tapi di balik itu ada sesuatu yang membuat Jarvis Cocker, vokalis Pulp, mendidih dari dalam. Karena ia tahu satu hal yang tak pernah benar-benar dipahami oleh perempuan itu: bagi orang yang lahir kaya, kemiskinan adalah destinasi wisata; bagi orang yang lahir miskin, itu adalah rumah yang tak bisa kamu pindahi.

"Common People" sering disangka lagu cinta karena temponya yang menanjak, melodi yang membakar, dan vokal Cocker yang nyaris berteriak di bagian akhir. Tapi sebenarnya ini adalah salah satu kritik kelas sosial paling tajam yang pernah masuk tangga lagu pop arus utama. Inilah keajaibannya: jutaan orang menyanyikannya di klub, di stadion, di pesta, sambil melompat-lompat gembira, padahal yang mereka nyanyikan adalah dakwaan keras terhadap kemunafikan orang kaya yang menganggap penderitaan kelas pekerja sebagai gaya hidup yang seru untuk dicoba.

Latar belakang: dua dekade menunggu di pinggiran

Untuk mengerti kenapa lagu ini terasa begitu jujur, kamu harus tahu siapa Jarvis Cocker. Pulp bukan band yang tiba-tiba meledak. Cocker membentuk band ini di Sheffield, kota industri di utara Inggris, sejak akhir 1970-an saat ia masih remaja. Selama lebih dari lima belas tahun, Pulp adalah band yang berjuang di pinggiran, nyaris tak dikenal di luar kalangan tertentu. Cocker dikabarkan pernah hidup pas-pasan, bahkan ada cerita ia sempat patah panggul karena jatuh dari jendela saat mencoba memamerkan diri di depan seorang perempuan. Ia bukan bintang pop yang dipoles sejak muda. Ia adalah seorang outsider berkacamata, kurus, kikuk, yang akhirnya berhasil setelah hampir menyerah.

Pengalaman hidup itulah yang membuat "Common People" terdengar bukan seperti pose politik, tapi seperti luka pribadi. Lirik lagu ini katanya terinspirasi dari pengalaman nyata Cocker ketika ia kuliah di Saint Martin's College of Art di London, sebuah kampus seni yang penuh anak-anak orang berada. Konon ada seorang mahasiswi dari Yunani yang memang mengatakan ingin pindah ke Hackney, kawasan kelas pekerja, untuk merasakan kehidupan "orang biasa". Cocker menyimpan momen itu bertahun-tahun di kepalanya sampai akhirnya tumpah menjadi lagu.

Lagu ini dirilis tahun 1995 sebagai single dari album Different Class. Tahun itu adalah puncak Britpop, sebuah gelombang musik Inggris yang didominasi rivalitas Oasis dan Blur. Pulp menyelinap masuk dengan sesuatu yang berbeda: bukan kebanggaan kelas pekerja yang romantis ala Oasis, bukan ironi kelas menengah ala Blur, melainkan amarah yang dingin dan cerdas. Bagi pendengar Indonesia, ada satu titik sambung yang menarik di sini: tema "orang kaya yang bermain-main menjadi miskin demi pengalaman" itu terasa sangat akrab di telinga kita. Kita mengenal istilah seperti "miskin estetik" atau fenomena selebriti dan influencer yang sengaja tampil sederhana untuk konten, lalu kembali ke kenyamanan mereka begitu kamera mati. "Common People" adalah versi tahun 1995 dari perdebatan yang masih kita ributkan di media sosial hari ini.

Makna inti: kemiskinan bukan kostum yang bisa dilepas

Mari kita bongkar isi lagunya tanpa mengutip satu baris pun, karena kekuatan "Common People" justru ada di alur ceritanya yang seperti drama pendek.

Lagu ini dibuka dengan pertemuan si narator dengan seorang perempuan kaya, mahasiswi seni asal luar negeri yang punya selera mahal namun menyimpan keinginan aneh: ia ingin hidup seperti rakyat jelata, ingin tidur dengan orang kebanyakan. Si narator, dengan nada sinis, menawarkan diri untuk menemaninya menjelajahi dunia itu. Tapi sejak awal kita merasakan ada bara di balik kesopanannya.

Saat cerita berkembang, si narator mulai mengajak perempuan itu menjalani realitas kelas pekerja yang sesungguhnya: berbelanja di supermarket murah, tinggal di apartemen sempit, mencoba hidup dengan uang yang nyaris habis. Tapi di sinilah letak ironi yang tajam. Perempuan itu tertawa, menganggap semuanya menyenangkan, seperti permainan. Dan si narator, dengan kepahitan yang makin meninggi, menunjuk perbedaan paling fundamental: jika kamu lahir miskin, kamu tidak punya tombol untuk menelepon ayahmu dan menghentikan semua "permainan" ini kapan pun kamu bosan. Bagi perempuan itu, kemiskinan adalah eksperimen. Bagi orang sungguhan, itu adalah penjara tanpa pintu keluar.

Bagian terkuat lagu ini datang di klimaks, ketika nada Cocker meledak menjadi semacam khotbah marah. Ia menggambarkan betapa orang kaya senang menonton kehidupan kelas bawah dari jarak aman, seperti menonton binatang di kebun binatang, lalu pulang ke kehidupan mereka yang nyaman. Ia menelanjangi fantasi bahwa "hidup sederhana itu autentik dan keren", dengan menunjukkan bahwa di balik kesederhanaan yang dipaksakan itu ada rasa lapar, kebosanan, dan keputusasaan yang tak pernah dirasakan oleh para wisatawan kemiskinan. Pesannya brutal namun jernih: kamu tidak akan pernah benar-benar mengerti orang kebanyakan, sekeras apa pun kamu mencoba, karena pemahaman itu bukan soal pengalaman sesaat, melainkan soal tidak punya jalan keluar.

Yang membuat lirik ini cemerlang adalah Cocker tidak pernah menggurui dengan jargon politik. Ia bercerita lewat detail kecil, lewat dialog, lewat sarkasme. Itulah kenapa lagu ini bisa menusuk tanpa terasa seperti ceramah.

Konteks budaya dan warisannya

Ketika "Common People" dirilis, lagu ini meledak menjadi salah satu single paling ikonik dekade 1990-an di Inggris. Dikabarkan mencapai posisi nomor dua di tangga lagu Inggris dan langsung mengangkat Pulp dari band kultus menjadi nama besar nasional. Puncak simboliknya terjadi di Glastonbury Festival 1995, ketika Pulp menggantikan The Stone Roses yang batal tampil sebagai headliner. Penampilan itu, terutama saat mereka membawakan "Common People", sering disebut sebagai salah satu momen paling legendaris dalam sejarah festival musik Inggris. Ribuan orang menyanyikannya bersama, dan Cocker, si outsider yang bertahun-tahun gagal, akhirnya berdiri di puncak.

Tak lama setelah itu, citra Cocker sebagai semacam pahlawan rakyat makin kuat ketika ia naik ke panggung BRIT Awards 1996 dan mengganggu penampilan megah Michael Jackson sebagai bentuk protes terhadap citra Jackson yang menampilkan dirinya seperti sosok mesianik. Insiden itu membuatnya sempat ditahan sebentar, tapi justru mengukuhkan reputasinya sebagai suara anti kemapanan yang berani.

Lagu ini juga menjelma jadi materi budaya pop yang awet. Salah satu interpretasi ulang paling terkenal datang dari William Shatner, aktor legendaris Star Trek, yang membawakan versi spoken-word yang dramatis dan mengejutkan banyak orang justru karena ia berhasil membongkar isi lirik itu dengan cara yang sangat berbeda. Versi ini membuktikan betapa kuatnya teks lagu Cocker: bahkan dibacakan tanpa melodi aslinya, dakwaan kelas sosialnya tetap menggigit.

Dalam sejarah Britpop, "Common People" sering disebut sebagai salah satu lagu terbaik yang lahir dari gerakan itu, mengalahkan banyak lagu dari band yang lebih besar secara komersial. Berbagai majalah musik menempatkannya secara konsisten dalam daftar lagu terhebat sepanjang masa. Bukan karena ia paling catchy, tapi karena ia berhasil melakukan sesuatu yang langka: menyelundupkan kritik politik yang tajam ke dalam tubuh sebuah anthem yang membuat orang ingin menari.

Kenapa lagu ini masih relevan hari ini

Lebih dari tiga dekade berlalu, dan ironi pahit "Common People" justru terasa makin relevan. Kita hidup di era ketika ketimpangan kekayaan melebar di mana-mana, termasuk di Indonesia. Kita melihat fenomena di mana kesederhanaan dijadikan estetika, di mana kemewahan justru kadang menyamar sebagai kesahajaan. Influencer yang tampil tinggal di rumah kecil untuk konten "hidup minimalis", lalu kembali ke gaya hidup mahal. Fashion yang sengaja dibuat "lusuh" dan dijual dengan harga selangit. Semuanya adalah gema dari apa yang Cocker tertawakan dengan pahit pada tahun 1995.

Inti kemarahan lagu ini menyentuh sesuatu yang universal: perbedaan antara mengalami sesuatu sebagai pilihan dan mengalaminya sebagai takdir. Seorang turis bisa menikmati kawasan kumuh sebagai pengalaman eksotis lalu pulang ke hotel berbintang. Tapi bagi mereka yang tinggal di sana, tidak ada pesawat pulang. Perbedaan inilah yang sering dilupakan ketika orang dengan privilese mencoba "berempati" dengan menjalani sebentar kehidupan yang lebih sulit. Cocker mengingatkan, dengan suara yang nyaris berteriak, bahwa empati sejati bukan soal mencicipi penderitaan, melainkan soal mengakui bahwa kamu punya jalan keluar dan orang lain tidak.

Bagi pendengar muda Indonesia, lagu ini bisa jadi cermin yang tidak nyaman namun penting. Di tengah budaya media sosial yang gemar memamerkan "kesederhanaan yang dikurasi", "Common People" menanyakan pertanyaan yang sederhana namun tajam: apakah kamu benar-benar memahami kehidupan orang lain, atau kamu sekadar menggunakannya sebagai latar belakang untuk cerita tentang dirimu sendiri? Itulah kenapa lagu yang lahir di kelas seni rupa London ini tetap berdenyut, masih dinyanyikan di stadion, dan masih membuat orang berhenti sejenak ketika benar-benar mendengarkan kata-katanya.

Dan mungkin itulah pencapaian terbesar Jarvis Cocker: ia membuat jutaan orang dari segala kelas menari dan bernyanyi bersama, sambil diam-diam menampar mereka dengan kebenaran tentang jurang yang memisahkan mereka.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

Mulailah dari album yang melahirkan lagu ini, Different Class, karya paling lengkap Pulp yang penuh kritik kelas sosial dibalut melodi pop yang lengket. Setelah itu, jangan lewatkan album berikutnya yang lebih gelap dan introspektif untuk melihat sisi lain Cocker.

📚 Mengikuti kisahnya

Untuk memahami pikiran di balik lirik setajam ini, bacaan tentang Jarvis Cocker dan budaya Britpop sangat membantu. Buku-buku ini mengupas era ketika musik Inggris berbenturan dengan politik kelas dan identitas nasional.

🌍 Mengunjungi tempatnya

Sheffield, kota industri yang membesarkan Pulp, dan London, tempat lirik ini lahir di sebuah kampus seni, adalah dua titik penting dalam peta lagu ini. Panduan perjalanan ini bisa membantumu menelusuri jejak musik dan budaya kelas pekerja Inggris.

🎸 Mengalaminya sendiri

Ingin merasakan energi lagu ini di tanganmu sendiri? "Common People" punya riff dan progresi yang menyenangkan dimainkan. Mulailah dengan gitar yang terjangkau dan buku partitur lagu-lagu Britpop.


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut:

Tags
90s