SONGFABLE · 1980

Can You Feel It

THE JACKSONS · 1980

TL;DR: Di balik dentuman drum raksasa dan paduan suara yang terdengar seperti seruan dari surga, "Can You Feel It" sebenarnya bukan lagu cinta atau lagu pesta — ini adalah khotbah utopis tentang persaudaraan umat manusia, sebuah mimpi tentang dunia tanpa sekat warna kulit dan batas negara yang ditulis oleh Michael dan Jackie Jackson di puncak ketenaran mereka.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Yang Mengejutkan: Ini Bukan Lagu Dansa Biasa

Kalau kamu pertama kali mendengar "Can You Feel It", kemungkinan besar yang menempel di kepalamu adalah intro raksasanya — drum yang menghentak seperti langkah raksasa, lalu paduan suara megah yang membuat bulu kuduk berdiri. Banyak orang mengira ini sekadar lagu disko-funk untuk berdansa. Tapi begitu kamu memperhatikan apa yang sebenarnya dinyanyikan keluarga Jackson, gambarannya berubah total.

Lagu ini adalah ajakan. Bukan ajakan ke lantai dansa, melainkan ajakan untuk membayangkan dunia yang lebih baik. The Jacksons di sini bertindak nyaris seperti pengkhotbah di mimbar gospel, hanya saja mimbarnya adalah panggung pop global dan jemaatnya adalah seluruh dunia. Tema besarnya: semua manusia adalah satu keluarga, semua orang lahir dengan hak dan martabat yang sama, dan cinta seharusnya mengalir bebas melintasi semua batas. Itulah "perasaan" yang mereka tanyakan — apakah kamu bisa merasakannya?

Bagian yang sering luput diperhatikan: lagu ini punya nada hampir religius. Ada bayangan tentang cahaya yang turun, tentang harapan yang dibagikan kepada generasi mendatang, tentang kasih yang menyatukan. Megah, ambisius, dan jauh lebih serius daripada yang disangka orang dari sekadar groove-nya yang bikin badan bergoyang.

Latar Belakang: Saudara-Saudara yang Akhirnya Memegang Kendali

Untuk memahami kenapa lagu ini terasa begitu penuh semangat, kita perlu tahu posisi keluarga Jackson saat itu. "Can You Feel It" adalah lagu pembuka album Triumph (1980), dan judul album itu — "kemenangan" — bukan kebetulan. Setelah bertahun-tahun di bawah label Motown yang mengontrol hampir setiap aspek musik mereka, keluarga ini akhirnya pindah ke Epic Records dan, yang paling penting, mulai menulis serta memproduseri lagu mereka sendiri.

"Can You Feel It" konon ditulis oleh Michael Jackson bersama kakaknya, Jackie Jackson. Ini periode emas: Michael baru saja merilis Off the Wall (1979) yang meledak luar biasa, kepercayaan dirinya sedang membumbung, dan album Triumph menjadi panggung di mana keluarga ini membuktikan mereka bukan sekadar boyband bentukan label, melainkan seniman utuh dengan visi sendiri. Dentuman drum besar di awal lagu itu, kabarnya, sengaja dirancang untuk terdengar monumental — seperti gerbang yang dibuka.

Bagi pendengar Indonesia, ada satu jembatan budaya yang menarik di sini. Era awal 1980-an adalah masa ketika musik funk dan disko Barat mulai meresap deras ke Indonesia lewat radio, kaset, dan diskotek di kota-kota besar. Generasi yang tumbuh di era itu mengenal The Jacksons bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai suara modernitas — sesuatu yang terasa canggih dan mendunia. Dan ketika Michael Jackson kemudian menjadi fenomena solo global, banyak penggemar Indonesia menelusuri balik ke akar musiknya, dan di situlah mereka menemukan kembali keluarga Jackson serta lagu-lagu seperti ini. Semangat persaudaraan tanpa sekat yang dibawa lagu ini juga beresonansi dengan nilai yang akrab di telinga orang Indonesia: "Bhinneka Tunggal Ika" — berbeda-beda tetapi tetap satu.

Membongkar Makna: Khotbah Pop tentang Satu Keluarga Besar

Mari kita uraikan apa yang sebenarnya disampaikan lagu ini, tanpa mengutip liriknya. Inti pesannya bergerak dalam beberapa lapisan.

Pertama, ada gagasan tentang asal-usul yang sama. Lagu ini menegaskan bahwa setiap manusia, dari mana pun ia berasal, lahir dari sumber yang satu. Tidak ada yang lebih tinggi karena warna kulitnya, tidak ada yang lebih rendah karena tempat lahirnya. Ini pernyataan kesetaraan yang berani, apalagi dinyanyikan oleh keluarga kulit hitam Amerika di era ketika luka rasial di Amerika Serikat masih sangat segar.

Kedua, ada ajakan untuk menyebarkan cinta. The Jacksons mendorong pendengar untuk membagikan kasih kepada sesama, untuk meneruskannya ke anak-anak, ke generasi yang akan datang. Ada rasa tanggung jawab di sana — seolah-olah merasakan "perasaan" itu bukan cukup hanya untuk dinikmati sendiri, tapi harus diteruskan agar dunia berubah.

Ketiga, ada imaji surgawi. Sepanjang lagu, ada gambaran tentang cahaya, tentang sesuatu yang turun dari atas, tentang harapan yang menyinari. Ini yang membuat lagu terasa seperti himne. Pertanyaan berulang "bisakah kamu merasakannya?" jadi semacam panggilan spiritual: bisakah kamu merasakan getaran kebaikan ini, energi persatuan ini, yang menurut mereka tersedia bagi semua orang kalau saja kita mau membukanya.

Yang brilian adalah bagaimana pesan seberat ini dikemas dalam musik yang justru membuat orang ingin bergerak. Alih-alih ceramah yang menggurui, The Jacksons membungkus utopia mereka dalam groove yang tak tertahankan. Kamu menari, dan tanpa sadar kamu menyerap pesannya. Itulah kejeniusan pop terbaik — menyelundupkan ide besar lewat pintu emosi.

Konteks Budaya dan Warisan: Video yang Mendahului Zaman

"Can You Feel It" tak bisa dipisahkan dari video musiknya, yang pada masanya benar-benar revolusioner. Pada 1981, sebelum MTV bahkan mengubah industri musik, The Jacksons merilis sebuah klip berdurasi panjang yang penuh efek visual spektakuler. Dalam video itu, saudara-saudara Jackson digambarkan sebagai sosok raksasa yang berjalan di atas kota, menaburkan cahaya dan bintang ke kerumunan manusia kecil di bawah, menyatukan orang-orang dari berbagai bangsa.

Citra itu sangat literal sekaligus puitis: para Jackson sebagai pembawa cahaya, sebagai figur yang menebarkan harapan ke seluruh umat manusia. Efek khususnya, yang dikerjakan dengan teknologi mutakhir saat itu, membuat video ini terlihat seperti film fiksi ilmiah ketimbang klip musik biasa. Banyak yang menyebutnya sebagai salah satu cikal bakal video musik sinematik berskala besar yang kemudian dipopulerkan Michael Jackson lewat "Thriller" dan "Beat It".

Dalam perjalanan waktu, lagu ini menjelma menjadi anthem yang dipakai di berbagai momen besar. Intro drumnya yang ikonik begitu mudah dikenali sehingga sering dipakai untuk membuka acara olahraga, pertunjukan kembang api, dan perayaan publik di seluruh dunia. Energinya yang membangkitkan semangat membuatnya cocok untuk momen-momen ketika ribuan orang berkumpul dengan satu perasaan bersama — yang, ironisnya, persis seperti yang dibayangkan liriknya. Banyak orang menari mengikuti lagu ini di stadion tanpa pernah benar-benar menyadari bahwa mereka sedang merayakan pesan persatuan yang ditulis empat dekade lalu.

Lagu ini juga menjadi penanda transisi penting dalam karier keluarga Jackson. Ia membuktikan bahwa mereka bisa berdiri sebagai pencipta, bukan hanya pelaku. Untuk Michael secara khusus, ini adalah salah satu langkah menuju kemandirian artistik penuh yang akan mengubahnya menjadi sosok terbesar dalam sejarah pop.

Kenapa Lagu Ini Masih Menggetarkan Hari Ini

Ada alasan kenapa "Can You Feel It" tidak pernah benar-benar terdengar usang. Di dunia yang masih dipenuhi perpecahan — soal ras, agama, kebangsaan, ideologi — pesan tentang satu keluarga besar umat manusia justru terasa semakin relevan, bukan semakin kuno. Setiap generasi tampaknya butuh diingatkan kembali bahwa hal-hal yang memisahkan kita jauh lebih kecil daripada yang menyatukan kita.

Secara musikal pun lagu ini tetap segar. Produksinya begitu kuat dan jelas sehingga ketika dimainkan di sound system modern, dentuman itu tetap menghantam dengan kekuatan penuh. Banyak produser musik dansa dan hip-hop kemudian mengambil potongan dari lagu ini, menggunakannya sebagai sampel, sehingga DNA-nya terus hidup dalam musik baru bahkan untuk pendengar yang tak tahu asal-usulnya.

Bagi pendengar Indonesia yang mencintai musik Barat, lagu ini menawarkan sesuatu yang istimewa: ia adalah jembatan antara kesenangan murni dan makna mendalam. Kamu bisa menikmatinya semata sebagai lagu yang membuat tubuh bergoyang di akhir pekan, atau kamu bisa duduk dan benar-benar mendengarkan apa yang ingin disampaikan keluarga Jackson tentang dunia yang mereka impikan. Keduanya sah, dan keduanya memuaskan.

Mungkin itulah daya tahan sejati lagu ini. Ia tidak menuntutmu untuk menjadi serius, tapi ia membuka pintu kalau kamu mau masuk lebih dalam. Dan saat intro drum raksasa itu menggema lagi, di stadion, di radio, atau di playlist-mu, pertanyaannya tetap sama seperti tahun 1980: bisakah kamu merasakannya?


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

Kalau intro raksasa lagu ini bikin kamu penasaran dengan sisa albumnya, Triumph adalah album yang wajib didengar utuh — ia memperlihatkan keluarga Jackson di puncak kepercayaan diri kreatif mereka. Jangan lupa juga menelusuri katalog Michael Jackson dan The Jacksons secara keseluruhan untuk mendengar bagaimana groove ini berkembang.

📚 Mengikuti kisahnya

Untuk memahami perjalanan keluarga ini dari Gary, Indiana, sampai menguasai dunia, ada banyak buku yang menggali dinamika keluarga, era Motown, dan kebangkitan Michael. Membaca kisah di balik Triumph membuatmu mendengar lagu ini dengan telinga yang sama sekali baru.

🌍 Mengunjungi tempatnya

Akar keluarga Jackson ada di Gary, Indiana, dan jejak musik mereka membentang ke Motown di Detroit. Buku panduan dan koleksi foto tentang kota-kota musik Amerika ini memberi konteks geografis tentang dari mana suara legendaris itu lahir.

🎸 Merasakannya sendiri

Funk dan disko era ini hidup dari ritme dan bass. Kalau lagu ini membangkitkan keinginan untuk membuat groove sendiri, mulailah dengan bass atau alat perkusi, dan dengarkan lagu ini di headphone berkualitas agar dentuman drum legendaris itu terasa penuh seperti yang dirancang.


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanyakan lebih banyak:

Tags
80s